Beda Varian Delta dengan Delta Plus, Ini Penjelasan WHO

Beda Varian Delta dengan Delta Plus, Ini Penjelasan WHO – Virus corona penyebab Covid-19 terus bermutasi dan menghasilkan varian-varian baru yang memiliki karakteristik masing-masing. Sejauh ini sudah ada 11 varian virus corona yang berhasil diidentifikasi dan diberi nama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kesebelas varian itu diberi nama sesuai alfabet Yunani, yaitu Alpha, Beta, Gamma, Delta, Epsilon, Zeta, Eta, Theta, Iota, Kappa, dan Lambda. Salah satu varian yang kini menjadi perhatian adalah varian Delta, yang pertama kali terdeteksi di India, dan diduga menjadi salah satu penyebab perburukan situasi Covid-19 di negara itu. Varian Delta juga telah dikonfirmasi menyebar di Indonesia. Sama seperti di India, varian Delta juga turut menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus Covid-19 di Tanah Air.

Penelitian yang terus dilakukan terhadap varian tersebut juga mengungkap fakta baru bahwa varian Delta masih terus bermutasi dan menghasilkan varian Delta Plus. Lantas, apa beda varian Delta dengan varian Delta Plus? Kepala Ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan memberikan penjelasan tentang varian Delta dan Delta Plus. Penjelasan itu dia sampaikan dalam tanya jawab virtual yang digelar WHO pada Kamis (24/6/2021). Varian Delta Soumya mengatakan, varian Delta pertama kali terdeteksi di India, dan tercipta berkat gabungan mutasi, sehingga menyebabkan varian tersebut menjadi lebih menular ketimbang virus aslinya. “Varian Delta setidaknya dua kali lebih menular dibandingkan dengan virus aslinya.

Artinya, jika seseorang terinfeksi varian itu, mereka kemungkinan akan memiliki viral load lebih tinggi,” kata Soumya. Dia mengatakan, viral load yang lebih tinggi itu menyebabkan pasien yang terinfeksi lebih mudah menularkan virus terhadap orang lain. “Dan oleh karena itu, kemungkinan satu orang tidak hanya dapat menularkan virus ke dua orang, tetapi dapat menularkan virus ke empat, enam, atau bahkan delapan orang,” kata dia. Kendati demikian, Soumya menyebutkan bahwa vaksin Covid-19 yang saat ini beredar dan didistribusikan ke masyarakat, sejauh ini masih efektif, setidaknya mencegah sakit parah yang ditimbulkan dari infeksi virus corona.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *